Ayo Gabung Segera Di JBP Terbaru

Kamis, 11 April 2013

Waduh :Indonesia, Negara Surga Bagi Para Koruptor

Foto Palu HakimIndonesia, Negara Surga Bagi Para Koruptor.  Itulah tema yang diangkat dalam obrolan rutin jama’ah kedai kopi malam ini. Dalam obrolan malam ini, para nggota tetap jama’ah kedai kopi menyoal ringannya hukuman bagi para koruptor di negeri ini. Hadir sebagai
narasumber dalam obrolan malam ini, bang Rudy, seorang ahli hukum pidana yang terbilang senior di komplek perumahan kami. Bang Rudy adalah pengacara senior.

Dalam obrolan yang bertema Indonesia, Negara Surga Bagi Para Koruptor  ini, bertindak sebagai moderator adalah bang Pendi, salah seorang pengamat segala bidang sehingga ia dianggap banyak tahu tentang berbagai hal, termasuk bidang hukum dan politik.  Hari-hari bang Pendi dihabiskan dengan mendengar dan mencari berita dari berbagai media, baik media cetak, media elektronik maupun media siber. Berikut adalah laporan pandangan mata obrolah Indonesia, Negara Surga Bagi Para Koruptor tersebut.

“saudara-saudara sekalian, daripada kita membicarakan Eyang Subur dan Adi Bing Slamet, Guru dan Murid yang lagi berseteru itu, lebih baik malam ini kita memikirkan negara kita dalam hal hukuman bagi para koruptor.  Saya berharap hasil obrolan kita malam ini bisa sebagai bahan pertimbangan atau masukan bagi para wakil kita di Senayan sana, khususnya dalam hal hukuman bagi para koruptor yang menurut saya masih terlalu ringan.   Dengan ini, obrolan malam ini saya buka, ting ting ting”, kata bang Pendi membuka acara obrolan dengan memukulkan sendok ke mangkok. Ya, bang Pendi sudah selesai makan semangkok mie instan.

“saya setuju dengan penilaian bang Pendi, memang hukumannya terlalu ringan.  Coba kita hitung, Angelina Sondakh terbukti korupsi 14.5 miliar rupiah, dia hanya dijatuhi hukuman empat setengah tahun dan denda 500 juta, bagaimana tidak ringan. Kerja macam apaan empat setengah tahun dapat 14 miliar, berarti sebulan dapat berapa?, kerja gak capek, cuma korupsi doang, uang hasil korupsi gak harus dibalikin lagi.  Enak sekali dia”, kata bang Pudin, seorang pengusaha biro perjalanan.
“ya untung banget koruptornya dong. Kalau begitu, mulai besok aku mau jadi koruptor saja, bisa untung besar, bisa kaya aku, gak usah capek-capek ngojek”, kata bang Herman yang berprofesi sebagai tukang ojek di komplek kami.

“Bagaimana ceritanya man kamu mau jadi koruptor, mana ada tukang ojek jadi koruptor.  Yang bisa jadi koruptor itu cuma pejabat negara, pegawai negeri, lha kamu pegawai apaan, pejabat apaan kamu”, kata bang Umar kepada bang Herman, sesama tukang ojek.
“Lha itu, si Anas kan bukan pegawai negeri, bukan pejabat negara, dia Cuma Ketua Umum Partai, pekerjaannya gak jelas tapi dia bisa kaya, dia tersangka korupsi, bagaimana itu”, kata bang Herman dengan nada bertanya kepada bang Umar.

“begini saudara sekalian, boleh saya simpulkan, dalam pembicaraan ini ada dua hal penting. Pertama adalah hukuman yang ringan, dan yang kedua adalah siapa yang disebut sebagai koruptor.  Karena pada kenyataannya ada orang yang bukan pegawai negeri, seperti yang disebutkan tadi, Anas Urbaningrum saat ini berstatus sebagai tersangka korupsi, padahal dia bukan pegawai negeri dan bukan pejabat negera. Apakah tukang ojek juga bisa jadi koruptor?, Untuk menjawab hal itu, mari kita dengarkan narasumber kita malam ini yaitu bang Rudy.  Silakan bang Rudy”, kata bang Pendi selaku moderator seraya menoleh kepada bang Rudy.

“Begini, berkaitan dengan hukuman bagi para koruptor, dalam Undang-undang nomor 31 tahun 1999 yang diubah menjadi Undang-Undang nomor 20 tahun 2001 disebutkan bahwa hukuman seringan-ringannya atau hukuman minimal bagi para koruptor itu ada beberapa macam, tergantung kriteria tindakan korupsi yang dilakukan.  Ada yang hukuman penjara paling ringan ada yang 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun dan 4 tahun dan denda juga macam-macam, ada yang minimal 50 juta maksimal 250 juta, ada yang minimal 150 juta dan maksimal 750 juta, yang jelas maksimalnya hanya 1 milyar.  Nah, disinilah masalahnya.  Para Hakim bisa saja atau tidak bisa disalahkan jika memutuskan untuk memberi hukuman pada tingkat paling ringan.  Menurut saya, batasan hukuman penjara paling ringan ini yang harus diubah.  Selain itu, dalam Undang-undang tersebut tidak ada kewajiban mengembalikan uang hasil korupsi.  Jadi harus ada pasal yang menyatakan bahwa semua uang hasil korupsi harus dikembalikan kepada negara ”

“mengenai siapa saja yang bisa menjadi koruptor, jawabnya ya siapa saja, karena dalam Undang-undang disebutkan bahwa yang dimaksud pelaku korupsi atau koruptor itu adalah setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.  Jadi bisa saja tukang ojek menjadi koruptor asal tahu caranya, tapi saya tidak akan kasih tahu, ntar kalau saya kasih tahu bang herman jadi koruptor beneran”, pungkas Bang Rudy.
Demikianlah hasil laporan pandangan mata obrolan kedai kopi dengan tema Indonesia, Negara Surga Bagi Para Koruptor.  Semoga bermanfaat. (SD)http://infomistik.com

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls