Ayo Gabung Segera Di JBP Terbaru

Jumat, 21 Oktober 2011

The Raid(serbuan maut) film indonesia yang mendunia


 Holy shit I haven’t seen an action movie this good in years! I felt that way only 30 minutes in, but after the full 100 minutes,
I still felt the same and had to exclaim that here, right upfront, because it deserves that much praise – Alex Billington

Mungkin sudah pada tau kan ya tentang film ini. Film The Raid atau untuk konsumsi lokal berjudul Serbuan Maut ini cukup menyita perhatian dunia film, tidak hanya
dalam negeri tapi juga internasional. Film ini di sutradarai oleh Gareth Evans yang sebelumnya melahirkan film Merantau, film yang mengangkat seni beladiri pencak silat ke dalam layar lebar.
Awalnya Gareth Evans cs menggarap film Berandal sebagai project kedua mereka setelah Merantau, tapi meraka menunda project tersebut dan malah berkonsentrasi ke film The Raid (Serbuan Maut). Rencananya film ini dijadikan prekuel untuk film Berandal nantinya.
Film The Raid ini kembali dibintangi oleh Iko Uwais yang dulu bersinar di Merantau. Yayan Ruhiyan juga kembali ikut ambil bagian di sini. Tidak hanya itu, mereka berdua juga bertindak sebagai koreografer bersama Gareth Evans sendiri. Film ini berbeda dengan Merantau, katanya bakal lebih hitam brutal. Semacam action thriller dengan kombinasi adegan-adegan seperti pada film “Die Hard” dengan “Assault On Precinct 13”
Matt Flannery kembali bertindak sebagai Director of Photography sama seperti film Merantau, jadi mudah-mudahan gambar yang dihasilkan juga bagus, tidak seperti kebanyakan film-film Indonesia yang lain yang kualitas gambarnya masih sama seperti sinetron.
Berikut trailer & sinopsisnya:
Sekelompok tim SWAT yang tiba di sebuah blok apartemen kumuh dengan misi menangkap pemiliknya – seorang raja bandar narkotik bernama Tama. Blok ini tidak pernah digerebek atau pun tersentuh oleh Polisi sebelumnya. Sebagai tempat yang tidak dijangkau oleh pihak berwajib, gedung tersebut menjadi tempat berlindung para pembunuh, anggota geng, pemerkosa, dan pencuri yang mencari tempat tinggal aman. Mulai bertindak di pagi buta, kelompok SWAT diam-diam merambah ke dalam gedung dan mengendalikan setiap lantai yang mereka naiki dengan mantap. Tetapi ketika mereka terlihat oleh pengintai, penyerangan mereka terbongkar. Dari penthouse suite-nya, Tama memerintahkan untuk mengunci gedung apartemen dengan memadamkan lampu dan menutup semua jalan keluar. Terjebak di lantai 6 tanpa komunikasi dan diserang oleh penghuni apartemen yang diperintahkan oleh Tama, tim SWAT harus berjuang melewati setiap lantai dan setiap ruangan untuk menyelesaikan misi mereka dan bertahan hidup.
Pasti ada yang bakal berpikiran, kok SWAT, emang di Indonesia ada SWAT? Mungkin di sini yang dipakai adalah terminologinya, bukan artian SWAT Amerika yang biasa nongol di film-film Hollywood. Lagian S.W.A.T itu sendiri artinya Special Weapons and Tactics atau sederhananya pasukan khusus. Dan SWAT itu sendiri ada di berbagai negara di dunia, tentu dengan nama lokal masing-masing. Seperti di Indonesia ada BRIMOB, DENSUS 88 (khusus teroris), KOPASSUS, KOPASKA, dll. Dan jika diperhatikan trailer di atas, saya tidak menemukan tulisan SWAT, yang biasanya kalau di film Hollywood terbentang jelas di van dan rompi mereka. Si sutradara Gareth Evans juga biling gini (baru nemu di kaskus):
“Simple reason, we use Swat only for international audience to understand what the group are in synopsis. But they aren’t Swat in the film and we chose not to use a “real” group cos the story and situation is fictional and also some of our action is movie style – we’re not aiming for 100% realism.”
Apalagi memakai nama satu khusus dalam negeri kayanya cukup susah. Selain perizinan dan birokrasi aparat Indonesia yang suka bertele-tele. Nanti bakal banyak yang tidak bisa terima dan tersinggung. Memakai topik yang nyerempet pejabat dan oknum polisi korup juga susaha. Karena di Indonesia ini banyak yang sensi, mana pernah ditampilkan polisi atau tentara jahat dalam film Indonesia? atau menteri atau jenderal jahat, seperti di film-fil Hollywood. Padhal aparat memang banyak yang bobrok tapi jaimnya luar biasa
Sebelum shooting film ini, para pemainnya sempat di latih oleh KOPASKA (Komando Pasukan Katak Angkatan Laut Indonesia) selama 5 hari

Salah satu sesi latihan di bootcamp

Orientasi senjata.

Eka mencoba Heckler & Koch MP5

Latihan keluar dari kendaraan “ vehicle exit technique”

Latihan pelacakan dan penangkapan #1

Latihan pelacakan dan penangkapan #2

Latihan pelacakan dan penangkapan #3

Tim SERBUAN MAUT
Ada yang menarik tentang judul film ini. Serbuan Maut digunakan untuk pasar lokal karena khawatir jika tetap menggunakan nama The Raid masyarakat akan dibingungkan & takut nanti dikira obat serangga :)
Untuk produksi kedua Merantau Films ini, sebagai Eksekutif Produser adalah Merantau Films berkolaborasi bersama XYZ Films, sebuah perusahaan penjualan film dan produser di Los Angeles, Amerika
Baru-baru ini Gareth Huw Evans, Iko Uwais dan Joe Taslim berkesempatan hadir di Toronto ‐ Kanada untuk mengawal rilis perdana internasional “The Raid” tanggal 8 September 2011 dalam Toronto International Film Festival 2011. Setelah tayang sebagai film pembuka di program Midnight Maddness, ternyata film ini dapat banyak apresiasi positif. Apresiasi tersebut didapat tak hanya dari para penonton tetapi juga para sineas dan kritikus film. Bahkan “The Raid” sempat menjadi trending topik di twitter Kanada dan disebut sebagai “The Most Talked About Film”.
Berikut beberapa tanggapan tentang The Raid:
Peter Sciretta, Slash Film – “This is the best action film I’ve seen in years”
Andrew Parker, Criticize This – “The Raid achieves action movie perfection and is a must see for genre buffs of all kids at this year’s festival. Rating: ***** (out of 5 stars)”
Alex Billington, First Showing ‐ “It truly is one of the best action films I’ve seen in years.”
Anton Sirius, Aint It Cool – “The Raid featured basically everything you could possibly want in an action film”
Brad Miska, Bloody Disgusting ‐ “It’s one of the best action movies ever assembled. The Raid is ultracinema, the highest octane of energy you’ll ever see on the big screen”.
James Rocchi , MSN Movies’ ‐ “The best Aristotelian‐unity action film since Die Hard”
Drew McWeeny, Hit Fix ‐ “A near perfect action movie”
Tim Hannigan, Horror movies – “If you want over‐the top bone‐crushing, knife slashing action which will leave you fighting to catch your breath. This is it! 9 out of 10 stars”
The Hollywood Reporter – “Ultra‐violent action movies don’t get much more exciting or inventive than this kick‐ass feature from Indonesia”.

Gareth Huw Evans, Iko Uwais dan Joe Taslim di TIFF 2011
Bahkan Sony Pictures Worldwide Acquisition (SPWA) telah membeli hak distribusi “The Raid” untuk wilayah Amerika, film ini juga telah terjual di berbagai network dan akan didistribusikan ke wilayah-wilayah lainnya, seperti Kanada oleh Alliance, Inggris oleh Momentum, Australia oleh Madman, Prancis oleh SND, Jerman oleh Kosch, Jepang oleh Kadokawa, Cina oleh HGC, dan Turki oleh Calinors. Kabarnya juga masih ada beberapa tawaran untuk peredaran di Benelux dan kawasan Asia.
Mike Shinoda (Linkin Park) & Joe Trapanase, composer Fast Five, Tron Legacy & Dexter Series juga bakal didaulat mengisi scoringnya untuk rilis internasional. Mike Shinoda sendiri menulis di blognya:
Oh ya untuk scoring sama Mike Shinoda ini belum tentu digunakan untuk rilis dalam negeri, kemungkinan masih menggunakan scoring yang dibuat sebelumnya yang juga pernah mengisi scoring di Merantau. Tapi jangan berkecil hati dulu, karena menurut publik dan kritikus luar scoring asli tersebut sudah cukup bagus. Bahkan mereka takut scoring hasil garapan Mike Shinoda bakal mengurangi kesan film ini.
Saya agak terganggu dengan beberapa komentar netizen Indonesia seperti “bagus sih kayanya, tapi sayang yg bikin bule”.
Saya pikir komentar-komentar seperti itu sangat picik. Atas dasar apa mereka berkomentar kaya gitu, nasionalisme kah? Nasionalisme sempit kalau saya pikir mah. Saja justru lebih respek pada orang seperti Gareth Evans, yang menengahkan pencak silat sebagai budaya Indonesia ke dalam film (Merantau & The Raid) daripada sineas-sineas Indonesia lainnya yang menjual komedi horror esek2 ke masyarakat. FYI, Gareth Evans ini adalah orang Wales yang menikah dengan seorang wanita Indonesia keturunan Jepang dan sudah cukup lama tinggal di Indonesia, kalau tak salah juga pernah kerja di TV Indonesia & istrinya juga salah satu murid perguruan silat Harimau.
Kru film The Raid 99% orang Indonesia kecuali Sutradara dan DOPnya, bahkan produsernya sendiri orang Indonesia.
Sekarang mungkin sudah ratusan artikel di seantero dunia tentang film ini, tidak hanya dalam bahasa Indonesia & Inggris, tapi juga Prancis, Jepang, Turki, Rusia, Spanyol, Arab, Portugal dll. Padahal belum juga tayang filmnya, masih lama euy.. Januari 2012 :(
Sudah saatnya Indonesia menghasilkan film-film bermutu. Dulu dimulai dari Hongkong, Jepang, Korea, Thailand dan kini saatnya giliran Indonesia. Semoga saja.

sumber : http://hendronurkholis.blog.com

1 komentar:

download idm mengatakan... Reply Comment

film lokal semakin bersinar yah!
semoga ke depannya sutradaranya pun bisa lokalan :)

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls